Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah

46 1 - Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah

Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah

Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah – Militer adalah angkatan bersenjata dari suatu negara dan segala sesuatu yang berhubungan dengan angkatan bersenjata. Padanan kata lainnya adalah tentara atau angkatan bersenjata. Militer biasanya terdiri atas para prajurit atau serdadu.

Kata lain yang sangat erat dengan militer adalah militerisme, yang artinya kurang lebih perilaku tegas, kaku, agresif dan otoriter “seperti militer”. Padahal pelakunya bisa saja seorang pemimpin sipil. Pemilu nasional pada 27 Desember kekerasan pemberontak di Afrika Tengah semakin meningkat. Untuk itu Afrika Tengah telah meminta bantuan Rusia, yang mengirim 300 instruktur militer ke negara tersebut.

Serangan di Afrika Tengah meningkat setelah aplikasi idn poker mobile mantan presiden Francois Bozize dilarang mencalonkan diri dalam pemilu. Pemerintah telah menuduh Bozize berusaha melakukan kudeta dengan kelompok-kelompok bersenjata sebelum pemilu mendatang.

1. Militer Rusia tidak akan terlibat dalam pertempuran
ep21bifw4ae9jmf b0ddb29ced0d0386e2acf5cda1070f5a a5a14124ce9c9adb704a232ca9d83784 - Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah

Lonjakan kekerasan pemberontak di Afrika Tengah terjadi menjelang pemilu pada hari Minggu, 27 Desember, yang membuat pemerintah meminta bantuan kepada Rusia. Pada hari Selasa Rusia telah mengirim 300 instruktur militer untuk melatih tentara Afrika Tengah. Rusia sebelumnya telah mengirim 175 instruktur militer ke Afrika Tengah.

Rusia telah membantu Afrika Tengah dalam serangan diplomatik dan keuangan sejak 2018 dengan imbalan konsesi kepada perusahaan Rusia untuk mengeksploitasi kekayaan mineralnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov mengatakan bahwa militer negaranya tidak ikut campur dalam pertempuran di Afrika Tengah, ia mengatkan instruktur militer tersebut bukan bagian dari tentara atau bagian dari pasukan khusus.

Namun juru bicara pemerintah Afrika Tengah Ange Maxime Kazagui mengatakan bahwa pasukan Rusia telah diundang sebagai bagian dari perjanjian bilateral untuk mendukung pemerintah dan Rusia telah mengirim, “beberapa ratus tentara dan senjata berat.”

Saat ini ada penjaga keamanan swasta Rusia yang bekerja di Afrika Tengah untuk menjaga keamanan pemerintah dan melindungi aset perekonomian negara.

2. Rwanda juga mengirim tentara dan polisi untuk membantu
eg16pwrxsaaqaw7 b0ddb29ced0d0386e2acf5cda1070f5a 111e3b6fbca929c3020d9da9c00dd7ee - Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah

Afrika Tengah juga akan dapat bantuan dari Rwanda, yang telah memiliki pasukan dalam misi keamanan PBB. Rwanda akan menambah pasukannya di Afrika Tengah.

Pasukan Rwanda yang dikirim ke Afrika Tengah akan memiliki, “aturan keterlibatan yang berbeda yang akan memungkinkan mereka untuk melindungi pasukan kami dari serangan, dan melindungi warga sipil”, kata Presiden Rwanda Paul Kagame.

Saat ini setidaknya ada 750 tentara dan polisi Rwanda yang beroperasi di bawah pasukan penjaga perdamaian Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi di Republik Afrika Tengah (MINUSCA). Pasukan MINUSCA dalam membantu menangani pemberontakan telah berpatroli di luar ibu kota Bangui.

3. Pemilu tetap akan berlangsung di hari Minggu
Pemilu - Rusia Mengirimkan 300 Instruktur Militer ke Afrika Tengah

Afrika Tengah adalah negara yang kaya akan sumber daya alam mineral, namun negara ini sangat miskin. Afrika Tengah telah berusaha memperoleh kembali stabilitas sejak Presiden Francois Bozize di gulingkan, pada tahun 2013 oleh pemberontak Seleka, yang sebagian besar beragama Islam.

Seleka di tuduh telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia, yang memicu pembalasan dari milisi Anti-balaka yang sebagian besar beragama Kristen, yang membuat terjadinya perang saudara dan konflik kedua kubu terus terjadi.

Kekerasan di Afrika Tengah meningkat setelah setelah mantan presiden Bozize di larang mencalonkan diri dalam pemilihan hari Minggu. Pemerintah telah menuduh Bozize merencanakan kudeta.

Meski konflik dengan pemberontak terus terjadi dan ada desakan dari beberapa partai politik agar pemilu di tunda. Pemerintah tetap akan mengelar pemilu di hari Minggu, 27 Desember. Sementara think tank International Crisis Group mendesak kepala negara tetangga. Pada hari Selasa untuk membantu Bozize dan Presiden Touadera mencapai kesepakatan. Agar pemilu bisa di laksanakan dengan damai.

Pada hari Selasa di kabarkan bahwa kelomopok pemberontak telah menguasai kota Bambari. Yang merupakan pusat perdagangan sekitar 380 kilometer timur dari ibu kota Bangui.

Mengenai di kuasainya Bambari pemerintah tidak dapat di hubungi untuk dimintai keterangannya. Utusan PBB untuk Afrika Tengah, Mankeur Ndiaye mengatakan dalam konferensi pers hari Selasa. Bahwa situasi keamanan saat ini relatif tenang dan tindakan keamanan telah di lakukan