4 Fakta Sindrom Mielodisplasia, Sindrom yang Bisa Memicu Leukemia Myeloid Akut

4 Fakta Sindrom Mielodisplasia, Sindrom yang Bisa Memicu Leukemia Myeloid Akut

Screen Shot 2019 06 03 at 13.05.49 - 4 Fakta Sindrom Mielodisplasia, Sindrom yang Bisa Memicu Leukemia Myeloid Akut

Sindrom mielodisplasia atau myelodysplastic syndrome (MDS) adalah sekelompok kelainan darah langka yang terjadi karena perkembangan sel darah yang tidak teratur di dalam sumsum tulang.

Tiga jenis utama elemen darah, yaitu sel darah merah merah, sel darah putih, dan trombosit, ikut terpengaruh. Sel darah merah bertugas untuk mengantarkan oksigen ke tubuh. Sedangkan sel darah putih membantu melawan infeksi, sementara trombosit membantu pembekuan untuk menghentikan kehilangan darah.

MDS merupakan salah satu jenis kanker. Di lansir worcestershiresoldier.org, MDS merusak beberapa sel pembentuk darah di sumsum tulang. Yang mengakibatkan rendahnya jumlah satu atau lebih jenis sel darah. Prospek MDS bervariasi, tergantung pada jenisnya. Usia saat penyakit terdiagnosis, perkembangan kanker, dan keberhasilan pengobatan.

Berdasarkan keterangan dari American Cancer Society (ACS), jumlah pasti diagnosis MDS setiap tahunnya tidak jelas. Beberapa orang memperkirakan sekitar 10.000 diagnosis setiap tahun. Sementara yang lain percaya bahwa angka kasusnya lebih banyak.

Di rangkum dari Daftar Live22, berikut deretan fakta medis seputar sindrom mielodisplasia yang perlu kamu ketahui.

1. Pernah menjalani pengobatan kanker seperti kemoterapi, terapi radiasi, dan terkena paparan zat kimia tertentu bisa meningkatkan risiko sindrom mielodisplasia

Penyebab pasti MDS belum di ketahui. Namun, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko, meskipun ini tidak berarti membuat seseorang pasti mengembangkannya. Karena, beberapa orang bisa mengembangkan MDS tanpa adanya faktor risiko apa pun.

Berikut ini beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena MDS:

  • Pengobatan kanker. Kemoterapi merupakan faktor risiko terpenting untuk MDS. Saat kondisi berkembang setelah menjalani kemoterapi, maka dokter menyebutnya MDS sekunder. Terapi radiasi semakin meningkatkan risiko MDS. Menurut keterangan dari MDS Foundation, seseorang yang telah menjalani kemoterapi atau terapi radiasi untuk kanker yang berpotensi bisa di sembuhkan mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengembangkan MDS hingga 10 tahun setelah pengobatan.
  • Paparan lingkungan. Paparan radiasi dan bahan kimia tertentu mempunyai kaitan dengan MDS. Bahan kimia benzena di sebut-sebut bisa menjadi pemicu MDS.
  • Sindrom genetik. Sementara seseorang tidak bisa mewarisi MDS itu sendiri, orang dengan sindrom genetik tertentu tampaknya lebih berisiko untuk mengembangkan MDS. Menurut ACS, sindrom genetik yang bisa meningkatkan risiko MDS meliputi anemia Fanconi, sindrom Shwachman-Diamond, anemia Diamond Blackfan, gangguan trombosit keluarga, neutropenia kongenital berat, dan dyskeratosis congenital.

Faktor risiko lain yaitu merokok, usia, dan jenis kelamin. Menurut ACS, laki-laki lebih banyak mengembangkan MDS di bandingkan perempuan. Selain itu, kebanyakan pasien terdiagnosis pada usia 60 tahun atau lebih. Jumlah orang yang mengembangkan MDS di bawah usia 40 tahun sangat sedikit.

2. Gejala tergantung pada stadium penyakit dan jenis sel darah yang terpengaruh

Di lansir Healthline, gejala MDS tergantung pada stadium penyakit dan jenis sel darah yang terpengaruh.

MDS merupakan penyakit progresif. Pada tahap awal, biasanya tidak ada gejala. Bahkan, kondisi ini sering kali di temukan secara tidak sengaja saat di dapat hasil jumlah sel darah rendah ketika melakukan tes darah karena alasan lain.

Pada tahap selanjutnya, kadar sel darah rendah menyebabkan gejala yang berbeda, tergantung pada jenis sel yang terlibat. Seseorang mungkin memiliki beberapa jenis gejala jika lebih dari satu jenis sel yang terpengaruh.

Berikut gejala yang muncul berdasarkan jenis sel yang terpengaruh:

  • Sel darah merah. Sel darah merah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jumlah sel darah merah yang rendah di sebut anemia. Ini merupakan penyebab paling umum dari gejala MDS, seperti kelelahan, kelemahan, kulit pucat, sesak napas, nyeri dada, dan pusing.
  • Sel darah putih (leukosit). Sel darah putih membantu tubuh melawan infeksi. Jumlah sel darah putih yang rendah (di sebut neutropenia) berhubungan dengan gejala infeksi bakteri yang bervariasi, tergantung di mana infeksi terjadi. Sering kali demam akan muncul. Situs infeksi yang umum meliputi:
    • Paru-paru (pneumonia): batuk dan sesak napas
    • Saluran kemih: nyeri buang air kecil dan darah di urine
    • Sinus: Hidung tersumbat dan nyeri pada sinus di wajah
    • Kulit (selulitis): daerah hangat berwarna merah yang dapat mengeluarkan nanah
  • Trombosit. Trombosit membantu tubuh membentuk gumpalan dan pendarahan. Gejala trombosit rendah (trombositopenia) yaitu meliputi mudah memar atau berdarah yang sulit di hentikan, dan petechiae (bintik-bintik titik datar di bawah kulit yang di sebabkan pendarahan).
3. Jenis-jenis sindrom mielodisplasia

Terdapat berbagai subtipe MDS, yang mana akan memengaruhi pandangan dan juga jalannya pengobatan.

Seorang dokter akan mengidentifikasi subtipe dengan menguji darah dan sumsum tulang pasiennya. Jenis subtipe di dasarkan pada jumlah sel darah, persentase ledakan atau sel darah yang belum matang di sumsum tulang, dan risiko MDS akan berubah menjadi leukemia myeloid akut (acute myeloid leukemia atau AML).

Jenis-jenis MDS meliputi:

  • Anemia refraktori. Jumlah sel darah merah rendah, ledakan kurang dari 5 persen di sumsum tulang, dan biasanya tidak berubah menjadi AML.
  • Anemia refraktori dengan cincin sideroblas. Jumlah sel darah merah yang rendah, lebih dari 15 persen sideroblas, atau sel darah merah yang memiliki cincin besi di sekitar tengahnya, dan kemungkinannya kecil untuk berubah menjadi AML.
  • Sitopenia refraktori dengan displasia multilineage. Dua dari tiga jenis jumlah sel darah rendah, ledakan kurang dari 5 persen, dan bisa berubah menjadi AML.
  • Sitopenia refraktori dengan displasia multilineage dan sideroblas bercincin. Dua dari tiga jenis jumlah sel darah rendah, lebih dari 15 persen sideroblas, dan bisa berubah menjadi AML. Anemia refraktori dengan ledakan berlebih (tipe 1 dan 2): sejumlah kecil dari tiga jenis sel darah, 5-20 persen ledakan di sumsum tulang, dan sekitar 40 persen berubah menjadi AML.
  • Sindrom mielodisplasia, tidak di klasifikasikan. Ini merupakan jenis tidak umum yang mempunyai jumlah satu jenis sel darah rendah yang tidak sesuai dengan kriteria untuk bentuk lain. Jenis ini mempunyai prognosis yang tidak jelas.
  • Sindrom mielodisplasia terkait dengan kelainan kromosom del (5q) terisolasi. Ini merupakan jumlah sel darah merah yang rendah dan kode genetik tertentu, atau DNA, mutasi dan mempunyai pandangan yang baik.
4. Sindrom mielodisplasia bisa menyebabkan leukemia myeloid akut

Saat jumlah sel darah menjadi sangat rendah, maka komplikasi bisa berkembang. Namun, komplikasi berbeda untuk setiap jenis sel darah, yang meliputi:

  • Anemia berat: kelelahan yang melemahkan, kesulitan berkonsentrasi, kebingungan, ketidakmampuan untuk berdiri karena pusing.
  • Neutropenia berat: infeksi berulang yang mengancam jiwa.
  • Trombositopenia berat: mimisan yang tidak kunjung berhenti, gusi berdarah, pendarahan internal yang mengancam nyawa, seperti maag yang sulit di hentikan.

Seiring waktu, MDS juga bisa berubah menjadi AML. Menurut keterangan dari ACS, ini terjadi pada sekitar sepertiga pasien MDS. Untuk alasan ini, dokter terkadang menyebut MDS sebagai praleukemia. Pasien MDS yang lebih lanjut mempunyai risiko mengembangkan AML yang jauh lebih tinggi.