4 Mitos legenda pohon kembar beringin di yogyakarta

4 Mitos legenda pohon kembar beringin di yogyakarta

4 Mitos legenda pohon kembar beringin di yogyakarta

4 Mitos legenda pohon kembar beringin di yogyakarta,- Terbakarnya salah satu dari dua beringin kembar di Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta menimbulkan banyak persepsi di tengah-tengah masyarakat. Sebagian warga menganggap terbakarnya pohon berusia ratusan itu memiliki nilai mistis.

Menanggapi hal tersebut adik dari sri sultan HB, GPHB Prabukusumo mengatakan terbakarnya beringin kembar tidak boleh dihubung-hubungkan dengan hal yang aneh-aneh apalagi soal mistik. Saya berharap kebakaran pohon beringin di Alun-alun Selatan jangan dihubung-hubungkan dengan apapun. Bagi pihak Keraton, kebakaran ini lebih pada peringatan agar selalu dirawat,” kata Gusti Prabu.

Namun masyarakat terutama warga lokal sudah kadung membuat persepsi lain. Terbakarnya pohon beringin yang dikenal wingit itu dinilai memiliki ‘pesan’ tersendiri.

Kepercayaan ini tidak muncul begitu saja. Keberadaan Alun-alun Kidul dan beringin kembar selama ini kental dengan mitos. Mitos apa saja itu? Berikut ulasannya:

Cerita beringin kembar dan pernikahan putri HB I

Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat sekitar tentang beringin kembar adalah ketika di zaman Sultan Hamengkubowono pertama. Dahulu kala ketika sultan Hamengkubuwono pertama bertahta, ada sebuah cerita tentang sebuah perkawinan putrinya.

Putri Sultan saat itu mau dipinang seorang lelakian namun sayang sang putri tidak begitu menyukainya. Alhasil sang putri meminta syarat. Sang pelamarnya harus bisa berjalan dengan mata tertutup dari pendopo yang ada di sebelah utara Alun alun Kidul melewati dua beringin kembar di tengah alun alun dan finish di pendopo di sebelah selatan alun alun. Dan ternyata siasat sang putri ini berhasil, si pemuda gagal menjalankan misinya.

Beringin kembar pintu gerbang laut selatan

Mitos lain yang berkembang seputar beringin kembar di Alun-alun Kidul adalah hubungan dengan laut selatan atau segoro kidul. Ada yang menyebut jika beringin kembar di Alun-alun Kidul merupakan pintu gerbang ke laut selatan.

Kepercayaan seputar mitos ini berkembang ketika di zaman HB VI. Dalam kepercayaan warga lokal, Keraton Yogya memang memiliki ‘hubungan’ spesial dengan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan.

Makanya banyak yang meyakini bahwa dahulu orang-orang yang hendak berbuat jahat ke Keraton Yogyakarta akan kehilangan kesaktiannya setelah melewati kedua beringin kembar tersebut.

Tempat latihan konsentrasi prajurit keraton

Zaman dahulu, Alun-alun Kidul digunakan sebagai tempat untuk latihan ketangkasan prajurit keraton. Para prajurit keraton berlatih ketangkasan berkuda (setonan), lomba memanah sambil bersila (manahan), dan adu harimau (rampok harimau) di Alun-alun Kidul.

Sejarah Alun-alun Kidul juga tidak bisa dilepaskan dari beringin kembar yang tumbuh di tengah alun-alun. Dulu para prajurit sering mengadakan latihan konsentrasi dengan berjalan di antara dua beringin.

Tradisi yang kini disebut ‘masangin’ ini kemudian banyak ditiru orang-orang dan membuat Alun-alun Kidul semakin populer. Bahkan hingga kini banyak warga yang sering datang ke Alun-alun Kidul dan melakukan masangin.

Bisa mengabulkan hajat

Tradisi yang disebut masangin itu hingga kini masih sangat populer di Alun-alun Kidul. Bahkan dari tradisi ini, banyak warga dari berbagai penjuru nusantara yang sengaja datang untuk kemudian melakukan masangin. Dari tradisi masangin ini lalu muncul mitos dalam masyarakat lokal bahwa siapa yang dapat melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup maka cita-cita atau hajatnya akan terkabul. Hasilnya, banyak orang penasaran dan datang untuk membuktikan mitos tersebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *