5 Sebab yang Mengakibatkan Perang Dunia 2 Harus Terjadi

5 Sebab yang Mengakibatkan Perang Dunia 2 Harus Terjadi

5 Sebab yang Mengakibatkan Perang Dunia 2 Harus Terjadi

5 Sebab yang Mengakibatkan Perang Dunia 2 Harus Terjadi – Selama ini kita mendengar bahwa Perang Dunia ke 2 terjadi karena perlombaan senjata dan ideologi yang cukup sengit baik di Eropa maupun Asia.

Dilansir https://fortmountainstables.net Di Jerman misalnya, NAZI sendiri berhasil mengambil alih tampuk kepemimpinan lewat sebuah pemilu demokratis. Untuk itulah, mari kita bahas beberap sebab Perang Dunia ke 2 yang jarang kita temui di buku-buku sejarah:

  • Sistem Pertanian 

Selama berabad-abad, manusia menggandalkan lahan garapan yang subur dan ternak untuk menghasilkan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Traktor, pupuk buatan, dan mekanisme pertanian modern sama sekali belum tercipta. Memasuki abad baru, kebutuhan pangan dunia semakin meningkat.

Masalah pangan ini jarang sekali dibahas dalam sejarah Perang Dunia ke 2, namun beberapa ahli menyatakan bahwa masalah pangan adalah pemicu terjadinya perang yang membunuh lebih dari 50 juta manusia itu.

Masalah pangan menjadi pelik karena jumlah penduduk di waktu itu begitu tinggi dibandingkan jumlah pasokan pangan yang mampu dihasilkan. Perubahan gaya hidup konsumtif juga mendorong perluasan wilayah antara negara-negara industri.

  • Ledakan Penduduk dan Industri 

Tidak dipungkiri, memasuki abad 20, jumlah penduduk bumi mencapai titik tertinggi di dalam sejarah umat manusia. Hampir 3 kali lebih banyak daripada satu abad sebelumnya. Jumlah penduduk ini tidak hanya menimbulkan masalah ketersedian pangan yang terbatas, namun juga masalah ekonomi.

Setelah perang dunia pertama, ekonomi dunia rata-rata ambruk. Penggangguran di negara-negara industri meningkat drastis seiring dengan tutupnya pabrik-pabrik dan perindustrian. Dunia yang tidak pernah dibebani dengan penduduk sebesar itu seakan hampir kolaps. Di beberapa negara industri, militerisasi menjadi sebuah opsi jalan keluar yang hampir tidak dapat dihindari. 
Militer dapat juga bekerja sebagai buruh pembangunan infrastruktur. Sedangkan Amerika, pabrik-pabrik senjata dibanjiri pelamar kerja. Jerman sendiri, hampir seluruh merek terkenal yang sekarang kita temui adalah penghasil senjata di masa itu. 
  • Perjanjian Versailles Bagi Jerman 

Perjanjian Versailles yang mengakhiri perang dunia ke 2 sangat mencekik bagi Jerman. Pada kenyataannya, ketika Perang Dunia 2 berakhir, tidak ada satupun wilayah tanah Jerman yang diduduki oleh sekutu dan di front barat, Jerman masih mencokol sebagian wilayah Perancis.

Normalnya, sebuah perjanjian untuk mengakhiri perang semacam ini hanya berupa status quo saja. Namun yang terjadi adalah, Jerman diperkosa habis-habisan. Kaisar mereka diturunkan dari takhtanya, wilayahnya dicabik-cabik, pasukannya dikerdilkan hingga 100.000 orang saja, dan mereka juga diharuskan membayar beban hutang perang negara-negara sekutu.

Perjanjian Versailles membuat industri Jerman lumpuh, penggangguran dimana-mana, dan inflasi meledak hingga jutaan persen. Bayangkan saja, harga sepotong roti yang awalnya tidak lebih dari 5 Mark melonjak menjadi 5 milyar Mark!

  • Pembagian Wilayah Yang Kacau Pasca Great War 

Pembagian Wilayah baik kepada negara-negara yang kalah maupun pemenang dalam Great War (Perang Dunia I) oleh sebagian ahli dianggap terlalu sembrono. Yugoslavia misalnya, adalah gado-gado etnis campuran yang belum pernah secara independen berdiri sebagai sebuha negara. Wilayah Kekaisaran Jerman juga dikebiri hingga Prussia Timur dan Jerman lainnya harus terpisah, begitu pula dengan wilayah Rheinland dan Saarland yang harus diduduki oleh sekutu.

Jerman harus menerima nasib bahwa tanah leluhur mereka harus diduduki secara pakasa oleh pihak asing. Hal ini tentu saja tidak bisa diterima begitu saja oleh sebagian besar rakyat Jerman. Meraka masih mengganggap bahwa Jerman sebenarnya belum tentu kalah dalam Perang Dunia Pertama. Perang tersebut hanya berhenti di tengah jalan.
  • Perancis dan Inggris Yang Pasif 

Perancis dan Inggris yang merupakan kekuatan dominan di Eropa pasca Perang Dunia I dinilai bersikap terlalu pasif dalam menanggapi berbagai isu konflik yang terjadi di Eropa. Ketika Jerman merebut kembali Rhineland dan Saarland secara paksa, kedua sejoli tersebut hanya terdiam pasrah. Begitu juga ketika Third Reich mencoba untuk menganeksasi sedulur mereka yaitu Austria. Jerman menjadi semakin agresif ketika Cheko yang notabene tidak mempunyai mayoritas penduduk berdarah Jerman ikut bersatu dalam negeri seribu tahun tersebut.

Jerman pada tahun 1938 belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk memulai sebuah perang skala besar. Tidak juga sebenarnya ketika Invasi Polandia berlangsung pada September 1939. Jika saja di waktu itu Perancis dan Inggris mau bergerak sedikit lebih cepat, maka agresivitas Jerman sebenarnya mampu diredam. Hal itu terjadi pula di wilayah-wilayah belahan dunia lain seperti ketika Jepang juga berusaha untuk merebut Manchuria dan kemudian hari China.