Dirgahayu Kopssus TNI, Operasi Paling Menegangkan Korps Baret Merah

Dirgahayu Kopssus TNI, Operasi Paling Menegangkan Korps Baret Nerah

Sejarah Operasi Menegangkan Kopassus

Dirgahayu – Dirgahayu Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ke-68. Kopassus merupakan bagian dari komando Utama tempur TNI AD yang dikenal sebagai pasukan elit paling disegani.

Berbagai operasi militer selalu membawa kesuksesan selama ini sampai dengan dirgahayu ke-68nya . Ingin tahu operasi militer apa saja yang dilakukan Korps Baret Merah? mari simak lebih lanjut.

Baca juga : Kapal Garda Revolusi Iran ‘Kerubuti’ Kapal Perang AS di Teluk

Operasi Seroja

Kuhut Binsar Panjaitan menjadi saksi momen langka Operasi Seroja. Pada tahun 1975, terbang selama enam jam dari Lanud Iswahyudi, Madiun ke Kota Dili, Timor-timur.

Mereka dihadapkan dengan situasi yang menuntut kesipa-siagaan. Ketika hendak terjundari pesawwat, musuh langsung mnegarahkan tembakan ke prajurit Kopassus.

Mantan komandan Kompi A Satgas Nanggala V di Kota Dili ini menceritakan betapa lelahnya para prajurit yang setiap hari harus membawa senjata lengkap, menggendong cs live22 ransel seberat 35 kilogram.

“Ada tembakan, pesawat belok. Ada (prajurit) yang masuk di laut. Ini suatu momen yang benar-benar membuat kita teringat semua bagaimana operasi dilakukan. Gagah berani, tapi tidak terencana dengan baik,” kata Luhut.

Operasi Banjarnegara

Operasi Banjarnegara telah dihentikan pada minggu (22/12). Evakuasi pencarian korban longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah Didukung ribuan Personel TNI, Polri, SAR, dan masyarakat.

Kopassus TNI AD atau Pasukan baret merah mengirim 35 personel dari Grup-2 Kandang Menjangan di Kartasura, yang memiliki kemampuan khusus mendaki dan menembus medan sulit.

Total ada 95 jenazah yang ditemukan, tertimbun di mobil dan puing-puing rumah dengan kondisi sudah mulai hancur dan sulit dikenali.

Bekuk Menteri GAM

Momen paling dramtis pada operasi ini ketika penangkapan Menteri Keuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tengku Muhammd Usman Lampoh Awe.

Sutiyoso menyamar jadi sopir si pengusaha. Dia menjemput Usman di persembunyiannya bersama sang pengusaha dan sekretarisnya. Kemudian mengajak Usman mengambil uang di hotel.

Momen menegangkan, setiap detik berlalu. Sutiyoso sudah mengokang pistol dan menyembunyikan di balik jaket. Anggota lain telah siaga 75 meter dari lokasi.
Dalam biografi Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando tertuang kisah rencana penyamaran untuk membekuk GAM.

Operasi Woyla

Operasi Woyla menjadi tiga menit yang paling menengangkan di pasukan Kopassus.

“Komando! Komando! Semua tiarap! Tiarap!,” sebuah teriakan mengejutkan di kabin pesawat DC-9 pukul 02.45 waktu Bangkok.

Aksi pembebasan sandera Garuda Woyla melambungkan nama Kopassus lagi. Sabtu 28 Maret 1981, setelah pesawat transit di Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol memasuki ruang kokpit.

Herman Rante sang Kapten Pilot dipaksa mengalihkan penerbangan ke Colombo, Srilanka.

Karena bahan bakar tidak cukup, akhirnya pesawat mendarat di Penang, lalu menuju Bandara Don Muang, Bangkok.

Pwmbajakan yang beranggotakan lima orang itu menuntut pemerintah indonesia, untuk membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara.

Presiden Soeharto menjawab tuntutan dengan aksi militer. Pemerintah Thailand telah memberi ijin melakukan operasi militer di Bandara Don Muang.

Penyanderaan pesawat Garuda DC-9 Woyla itu berakhir dalam waktu tiga menit. Para pasukan menerima Bintang Sakti, penghargaan tertinggi dalam militer Indonesia.

Serang KKB dan Akhir Penyanderaan Papua

Kopassus-Raider melakukan operasi senyap menyerang KKB dan mengakhiri penyanderaan Papua pada Jumat (17/11/2017).

13 Anggota Pasukan Khusus menyusup perlahan dengan terus berkoordinasi dengan Posko di Kodam Cendrawasih, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Bersama 30 pasukan elite Batalyon 751 Raider bertugas merebut Camp Kimbely. Serta didukung pasukan Yonif 754/EMK yang menyekat dan mengamankan ring luar.

Pergerakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) selalu dipantau oleh pesawat pengintai tanpa awak TNI AU dan Satuan Radar 243.

Setelah terdengar ledakan dan tembakan sniper, anggota Kopassus membuka serangan kilat pada kelompok bersenjata yang berkumpul dekat kandang babi.

“Kurang dari dua jam semua target sudah berhasil dikuasai,” kata Kapendam Cendrawasih Kolonel Muhammad Aidi.

Bebaskan Sandera

Kopassus kembali menuai pujian pada operasi pembebasan sandera di belantara Papua.

Selama 130 hari, Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah memberi mimpi buruk pada 12 peneliti Tim Lorentz yang mengumpulkan data di Mapenduma, Papua.

Senin 8 Januari 1996, ratusan anggota OPM yang dipimpin oleh Daniel Yudas Kogoya menculik mereka dari base camp.

Kasus yang mencuat menjadi pemberitaan di berbagai negara, karena melibatkan warga negara asing.

Para sandera di bawa blusukan ke belantara hutan Papua dan kekurangan makan, hingga beberapa menjadi sakit.

Prabowo Subianto, Komanda Jendral Kopassus Brigjen ditunjuk untuk menjadi komandan. Bersama dengan pasukan Batalyon Lintas Udara Kostrad 330 dan pasukan penjejak, terdiri dari putra Irian milik Kodam Cendrawasih.

Prabowo mempersilakan Tim International Committee of the Red Cross (palang merah internasional) untuk melakukan perundingan dengan OPM.

Karena ada salah seorang sandera yang tengah hamil. Sayangnya rundingan berliku dan menempuh jalan buntu.

Dua orang sandera dibunuh menggunakan kampak pada 15 Mei. OPM berniat membunuh seluruh sandera Indonesia dan tetap menyandera para WNA.

Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim, menemukan pembalut wanita dan permen yang tercecer di hutan untuk terus mencari jejak OPM.

Prabowo bersama tim berkekuatan 25 orang bertahan di hutan, berhasil mengamankan lokasi dan mengevakuasi korban. Para peneliti akhirnya bisa menghirup napas lega.

Itulah beberapa aksi sejarah menegangakan dari para Korps Baret Merah. Dirgahayu

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *