Diserang Pria Bersenjata, Tewaskan 16 Orang dan 2 Bayi Baru Lahir

Diserang Pria Bersenjata, Tewaskan 16 Orang dan 2 Bayi Baru Lahir

Tewaskan 16 Orang dan 2 Bayi Baru Lahir

Diserang Pria Bersenjata – Sekelompok pria bersenjata menyerang sebuah rumah sakit bersalin di wilayah barat Kabul, Ibu Kota Afghanistan. Terlibat baku tembak selama satu jam degan polisi pada selasa (12/5). Sebanyak 16 orang dilaporkan tewas, termasuk juga bayi baru lahir, ibu dari bayi, dan sejumlah perawat.

Baca juga : Militer Tak Tunduk Peradilan Umum, Perpres Terorisme Diprotes

Sejumlah foto yang dirilis Kementerian Dalam Negeri menunjukkan dua anak-anak tewas tergeletak di dalam rumah sakit.

Sebuah foto menunjukkan seorang perempuan tewas tergeletak di lantai memeluk bayinya. Menurut seorang perawat kepada Reuters, bayi itu selamat dan telah dipindahkan ke unit perawatan intensif di rumah sakit lain.

Penutupan Daerah Oleh Pemerintah

Dilansir dari Aljazeera, Rabu (13/5), pasukan keamanan sebelumnya menutup daerah itu saat mengevakuasi lebih dari 80 perempuan dan bayi dari rumah sakit. Rumah sakit itu merupakan yayasan amal yang dikelola Docters Without Borders (Medecins Sans Frontieres, atau MSF).

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Tareq Arian mengatakan, tiga warga negara asing termasuk di antara mereka yang dievakuasi dengan selamat, namun tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Tidak jelas mengapa rumah sakit bersalin di Dashti Barchi, yang terdiri dari 100 tempat tidur itu menjadi sasaran – serangan yang dikatakan Arian adalah “tindakan melawan kemanusiaan dan kejahatan perang”.

Tiga penyerang memakai seragama polisi saat masuk ke dalam rumah sakit, melempar gramat dan menembak.

Seorang dokter anak yang melarikan diri dari rumah sakit mengatakan kepada AFP, dia mendengar sebuah ledakan besar di pintu masuk gedung di Dashti live22 apk ios Barchi, sebuah daerah yang sebagian besar dihuni kelompok Syiah yang pernah diserang ISIS di masa lalu.

“Rumah sakit penuh pasien dan dokter, ada kepanikan di dalam,” ujar dokter yang meminta tak disebutkan namanya ini.

Pada sore hari, para suami, ayah, dan anggota keluarga pasien rumah sakit berkumpul di sekitar rumah sakit, mencari kabar orang yang mereka cintai.

Seorang pria membacakan nama-nama mereka yang telah dievakuasi ke rumah sakit lain.

Wilayah itu adalah rumah bagi banyak anggota komunitas Hazara Afghanistan, minoritas Muslim Syiah yang sebagian besar telah diserang ISIS di masa lalu, termasuk pada upacara Kabul untuk memperingati kematian salah satu pemimpinnya pada bulan Maret.

Serangan Bom di Acara Pemakaman

Pada hari yang sama, terjadi serangan bom bunuh diri di Provinsi Nangarhar Timur. Seorang penyerang menargetkan acara pemakaman seorang komandan milisi pro-pemerintah setempat dan mantan panglima perang di distrik Khewa. Komandan ini meninggal karena serangan jantung pada Senin malam, kata Attahullah Khogyani, juru bicara Gubernur Provinsi Nangarhar Timur.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan, ada 24 korban tewas dan 68 terluka. Mereka yang terluka dibawa ke Rumah Sakit Povinsi Nangarhar, kata juru bicara rumah sakit, Gulzada Sangar.

Khogyani menambahkan, korban tewas termasuk Abdullah Lala Jan, seorang anggota dewan provinsi, sementara ayahnya Noor Agha, seorang politikus, terluka dalam serangan itu.

Di Hadiri Sejumlah Dewan provinsi

Menurut Zabihullah Zemarai, anggota dewan provinsi lainnya, puluhan orang, termasuk, politikus, anggota dewan provinsi dan penduduk setempat menghadiri pemakaman Shaikh Akram, komandan milisi tersebut.

Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid mengatakan di Twitter, kelompoknya tidak terlibat dalam serangan itu.

ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan di Khost, yang menewaskan seorang anak dan melukai 10 orang.

Bom itu ditempatkan di gerobak di pasar lokal dan diledakkan dari jarak jauh, kata Adil Haidari, juru bicara kepala polisi provinsi.

ISIS juga mengatakan berada di balik serentetan serangan pada hari Senin di Kabul ketika empat bom, satu ditempatkan di bawah tempat sampah dan tiga lainnya di pinggir jalan, meledak di bagian utara kota, melukai empat warga sipil, termasuk seorang anak.

Badan intelijen Afghanistan mengatakan dalam sebuah pernyataan Senin malam. Pihaknya menangkap seorang pemimpin ISIS di wilayah itu, Ziaul Haq, yang juga dikenal sebagai Shaikh Abu Omer Al Khorasani.

Afghanistan juga menghadapi ancaman kekerasan dari Taliban. Bahkan ketika Amerika Serikat mencoba memfasilitasi perundingan damai setelah menandatangani perjanjian penarikan pasukan Februari dengan kelompok bersenjata itu.

Juru bicara Taliban mengatakan mereka menahan diri dari menyerang pusat-pusat kota dan operasi mereka ditujukan untuk pasukan keamanan pemerintah.

Kecaman dari Dunia

Kelompok HAM, Amnesty International mengutuk kedua serangan itu.

“Kejahatan perang yang tidak berbelas kasihan di Afghanistan hari ini. Menargetkan rumah sakit bersalin dan pemakaman, harus menyadarkan dunia akan kengerian yang terus dihadapi warga sipil,” tulis kelompok itu.

“Harus ada pertanggungjawaban atas kejahatan berat ini.”

Negara-negara termasuk Inggris, Jerman, Turki dan Pakistan merilis pernyataan yang mengutuk kekerasan ini.

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *