Melihat Besarnya Pasukan Drone Iran

Melihat Besarnya Pasukan Drone Iran

Melihat Besarnya Pasukan Drone Iran

Melihat Besarnya Pasukan Drone Iran,- Iran telah mengalami revolusi drone dan sekarang memiliki armada drone tempur terbesar di Timur Tengah, lapor media Iran Fars News, pada Minggu (7/6). Laporan eksklusif itu memaparkan pandangan mendalam ke dalam sejarah penggunaan drone Iran sebagai senjata strategis, yang akan digunakan untuk melawan Israel, AS, dan musuh lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menyerang Arab Saudi, mengganggu kapal-kapal AS, dan menerbangkan pesawat tanpa awak ke wilayah udara Israel.

Iran mengklaim armada drone-nya sudah ada sejak era “revolusi” sebelum 1979. Menurut laporan The Jerusalem Post, Iran membangun drone HESA Karrar-nya pada 2010 berdasarkan Beechcraft MQM-107 Streaker, drone yang dibangun pada 1970-an oleh AS. Alasan mengapa Iran membutuhkan waktu puluhan tahun untuk membangun sesuatu berdasarkan model AS masih tidak jelas. Diyakini, MQM-107 dijual ke Iran pada 1970-an. Iran juga memiliki drone target BQM-74 Chukar. Itu juga diekspor ke Iran pada 1970-an.

Fars News mengatakan, setelah revolusi 1979, perang dengan Irak memaksa Iran untuk berinovasi dalam teknologi drone. Iran telah mengakuisisi F-4 AS dan model pengawasan pesawat yang sama dengan RF-4, tetapi tampaknya tidak ingin menggunakannya terlalu sering karena mereka akan ditembak jatuh.

Baca Juga: Pasukan Kapal Selam Angkatan Laut Iran, Terkuat Keempat di Dunia

Jadi pada 1983, Garda Revolusi Iran, atau IRGC, memutuskan untuk mulai menggunakan pesawat model dari klub sipil yang memiliki stok mereka. Artikel itu juga menyebutkan “Batalion Guntur (Raad)” dibangun di dalam IRGC untuk penggunaan drone Iran. Dipercaya, unit-unit itu berbasis di Ahwaz dan termasuk wilayah provinsi Khuzestan di perbatasan dengan Irak.

Di sinilah Qasem Soleimani, yang saat itu menjadi kepala Pasukan Quds IRGC, terlibat dalam beberapa pertempuran paling berdarah dalam perang di sepanjang perairan Shat-Al-Arab untuk mencoba merebut Basra di Irak. Drone Iran seperti Karbala-5, mungkin telah digunakan dalam pertempuran ini. Drone Iran membantu memberikan pengawasan dan bisa diterbangkan tanpa risiko.

Gambar-gambar beresolusi tinggi yang disediakan Fars News menunjukkan Batalion Raad berhasil mengintegrasikan drone Mohajer-1-nya. Pada akhir perang, 940 misi telah diterbangkan dan 54.000 foto diambil. Artikel tersebut mengklaim drone sederhana ini, Mohajer, digunakan sampai drone Ababil dikembangka

Fars News juga menyebutkan IRGC Air Research and Self-Sufficiency Jihad Research Center telah membangun rudal balistik. Ini “menyebabkan kelahiran drone Shahed.” Shahed 121, misalnya, terbang di atas kapal induk USS Harry Truman pada Januari 2016 dan mendekati kapal induk Prancis Charles De Gaulle. Prancis mengirim helikopter untuk memantau drone Irantersebut. Rupanya drone itu tengah mengawasi kapal fregat Prancis, FS Provence dan USS Bulkeley.

Iran menyebut Shahed 121 sebagai pesawat pengintai. Drone Iran itu bisa terbang selama 10 jam dengan kecepatan 180 km/jam dan berat 30 kilogram, lapor The Jerusalem Post. Kemudian Iran membangun Shahed 129, dengan model drone Predator AS dan diterbangkan pertama kali pada 2012. Iran mengatakan bom pintar Sadid dapat dipasang pada Shahed 129 dan dapat terbang hingga 1.700 kilometer. Ini berarti drone Iran tersebut bisa terbang lebih jauh dari Predator, dan bisa terbang hingga 24.000 kaki. Dipandu dari satelit, mungkin drone itu bisa membawa 100 kilogram amunisi.

Baca Juga: Teledor, Militer Iran Hampir Tembakan Rudal Ke Arah Jet Tempur F-18 AS

“Ciri khas drone ini adalah sifat taktisnya,” tulis laporan Fars News. Drone itu bisa dipasang di kendaraan dan tidak perlu landasan. Kendaraan, dengan mengemudi cepat, konon memberikan daya angkat yang cukup untuk mendapatkan ketinggian awal, pada saat mesin dihidupkan, seperti di film AS Back to the Future.

Dalam laporan itu, dijelaskan juga drone Saegeh, yang memiliki baling-baling sebagai pengganti turbojet dan dapat membawa empat bom pintar Sadid. Ini juga diluncurkan dari kendaraan. “Yang dibutuhkan hanyalah permukaan datar agar mobil bisa melaju, bahkan jalanan kota.”

Iran juga membangun pesawat Shahed 171 atau Simorgh, sekitar tahun 2010, dan Shahed 191, yang juga disebut Saegeh-2. Ini adalah “babak baru dalam pengembangan kemampuan drone Iran Angkatan Udara IRGC,” katanya.

Pada 2011 Iran menjatuhkan Sentinel RQ-170 AS. Menurut laporan itu, Iran telah merekayasa pesawat mata-mata AS dan membangun model sendiri, yang mereka klaim didasarkan pada teknologi AS yang paling canggih. Iran juga membual tentang penyalinan drone AS ini dan mengatakan “Kemandirian Jihad” telah membantu mereka menjadikannya lebih modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *