Mengapa Perang Dunia III Tak Terjadi dalam Waktu Dekat?

Mengapa Perang Dunia III Tak Terjadi dalam Waktu Dekat

Mengapa Perang Dunia III Tak Terjadi dalam Waktu Dekat?

Mengapa Perang Dunia III Tak Terjadi dalam Waktu Dekat?,- Iran memandang negara mereka sebagai kekuatan yang sah di Timur Tengah. Namun, pasukan Amerika Serikat atau sekutu membatasi Republik Islam Iran dari segala penjuru, kecuali area timur laut yang mencakup Asia Tengah dan Rusia.

Mungkinkah Iran dan Amerika Serikat tidak saling menyerang usai serangan udara yang menewaskan Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayor Jenderal Qassem Soleimani? Komentator terkemuka Richard Haass dari Council on Foreign Relations berpendapat, “kawasan Timur Tengah (dan mungkin dunia) akan menjadi medan perang seketika”.

Faktanya, kiamat masih jauh dan belum terlihat di cakrawala.

Haass benar dalam arti terbatas, karena operasi militer yang tidak teratur sekarang menjangkau seluruh dunia. Para teroris haus untuk menyerang musuh jauh dan dekat dengan harapan menurunkan kehendak mereka untuk bertarung. Mereka tidak menghormati batas negara. Garis depan juga tidak jelas di perang dunia maya, untuk menyebut medan pertempuran siber tanpa adanya medan pertempuran nyata. Amerika Serikat dan Iran telah saling meluncurkan perang dunia maya selama satu dekade atau lebih, yang berasal dari serangan virus komputer Stuxnet di kompleks nuklir Iran pada 2010.

Minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya mungkin dipenuhi peperangan tidak teratur yang diluncurkan dengan kekuatan yang baru ditemukan melalui metode pemanasan yang tidak lazim. Iran diragukan akan meluncurkan operasi konvensional, melangkah ke wilayah yang jelas didominasi Amerika. Untuk meluncurkan pembalasan militer skala penuh akan membenarkan balas dendam militer skala penuh AS, yang dalam semua kemungkinan, akan melampaui Iran dalam kekuatan dan keganasan. Para Ayatollah yang menguasai Republik Islam Iran pun resah akan peluang kalah dalam bentrokan semacam itu. Mereka mungkin juga mempertimbangkan pengalaman yang sulit Poker Indo 88.

Baca Juga: Kapal Garda Revolusi Iran ‘Kerubuti’ Kapal Perang AS di Teluk

Dengan demikian, prospeknya kurang lebih sama. Kondisinya masih jauh dari nubuat-nubuat yang lebih panas tentang Perang Dunia III yang ditayangkan sejak Soleimani gugur. Untuk memahami dilema Iran, ada baiknya kita bertanya kepada orang yang mengetahui pasti ambisi Persia. Kekaisaran Persia pra-Islam, yang menaklukkan Timur Tengah dan mengancam Eropa, tetap menjadi tonggak keberhasilan geopolitik, bahkan untuk Iran era Republik Islam kini.

Sejarawan Athena Thucydides mencatat Perang Peloponnesia, gejolak abad ke-5 SM yang melanda Yunani. Persia adalah pemain utama dalam kontes itu. Bahkan, Persia membantu menentukan akhir perang ketika Raja Agung Persia memasok musuh Athena, Sparta, dengan sumber daya untuk membangun dirinya menjadi kekuatan angkatan laut yang mampu mengalahkan angkatan laut Athena yang angkuh di lautan.

pd 3 yahoo - Mengapa Perang Dunia III Tak Terjadi dalam Waktu Dekat?

Namun, Thucydides juga merenungkan kodrat manusia di banyak persimpangan dalam sejarahnya, mengambil pengamatan tentang ruang lingkup universal. Pada satu tahap, misalnya, para duta besar Athena berpendapat, tiga penggerak utama yang mendorong tindakan manusia adalah “ketakutan, kehormatan, dan kepentingan”. Para utusan tampaknya berbicara atas nama sang bapak sejarah, Thucydides.

Ketakutan, kehormatan, kepentingan. Ada beberapa tempat yang mulai membingungkan, mengapa individu dan masyarakat melakukan apa yang mereka lakukan dan melihat apa yang seharusnya dilakukan. Bagaimana hipotesis Thucydides berlaku untuk antagonisme pasca-pembunuhan Soleimani antara Amerika Serikat dan Iran? Pembunuhan komandan Pasukan Quds itu jelas menempatkan bola tepat di pihak Republik Islam Iran. Para mullah harus membalas serangan itu dengan cara tertentu. Tinggal diam berarti membuat diri mereka terlihat lemah dan tidak efektif di mata kawasan dan masyarakat Iran.

Dalam inefektivitas terdapat bahaya, yang kini dilipatgandakan setelah protes mengguncang bagian-bagian Iran pada November 2019. Penindasan yang terjadi kemudian membuat ratusan rakyat kehilangan nyawa dan mengungkapkan betapa dalam kebencian terhadap rezim agama di Iran. Tidak ada otokrat yang menikmati kelemahan, apalagi otokrat yang kekuasaannya mendapat tekanan dari dalam. Diperlukan unjuk kekuatan dan ketabahan untuk melawan musuh domestik.

Ketakutan adalah hal yang multi-domain dan berasal dari segala penjuru bagi para penguasa Iran. Terdapat ancaman eksternal berlimpah. Rakyat Iran sangat peka terhadap pengepungan geografis, misalnya. Mereka memandang negara mereka sebagai kekuatan yang sah di Timur Tengah. Namun, pasukan Amerika Serikat atau para sekutu mengepung dan membatasi Republik Islam Iran dari semua penjuru, dengan pengecualian wilayah timur laut, yang mencakup Asia Tengah dan Rusia.

Ketika kita melihat di peta, Angkatan Laut Amerika Serikat tampak menguasai sayap maritim barat, yang didukung oleh Angkatan Udara AS. Sekutu-sekutu Amerika di Teluk Arab membentang di pesisir barat Teluk Persia. Pasukan AS tetap berada di Irak di barat laut, tempat Soleimani tertembak jatuh, maupun di Afghanistan di timur. Bahkan Pakistan di sebelah tenggara merupakan sekutu perjanjian Amerika, meskipun hubungan mereka kurang baik. Kawasan di sekitar Iran adalah lingkungan yang terkepung. Pengaruh AS menjalar di sekeliling perbatasan Republik Islam Iran. Melarikan diri darinya sepertinya merupakan dorongan alami untuk diplomasi dan strategi militer Iran.

Betapapun kuat ambisi geopolitiknya, menurut analisis James Holmes dari The National Interest, kepemimpinan Iran akan enggan melakukan tindakan di luar pengeboman sesekali, dukungan kepada militan di berbagai tempat lain di kawasan, dan sikap bermusuhan yang telah menjadi andalan kebijakan luar negeri Iran selama empat puluh tahun hingga kini. Para pemimpin Iran memahami pasukan yang dipersiapkan untuk melawan mereka. Upaya serius pada melepaskan diri akan tetap prematur kecuali mereka menyelesaikan persenjataan nuklir. Kemampuan untuk menimbulkan ancaman kehancuran nuklir dapat memberanikan mereka untuk mencoba, tetapi akan tetap tersimpan untuk masa depan.

Selanjutnya, kehormatan. Peperangan tidak teratur itu sendiri tidak pasti, tetapi dapat memberikan pengembalian yang cepat atas investasi sumber daya dan upaya yang sederhana. Setelah mempertaruhkan keabsahan politis mereka untuk tetap setia pada Iran dan para proksinya di jazirah Timur Tengah, para Ayatollah Iran harus memberikan hasil tambahan yang teratur. Serangan langsung ke pasukan AS akan menjadi momen yang bagus, demikian juga gambar-gambar yang menunjukkan kapal perang militer Iran yang membuntuti armada Angkatan Laut AS atau serangan terhadap infrastruktur ekonomi vital di sekutu Amerika seperti Arab Saudi. Tajuk berita terkini tak ketinggalan turut menyampaikan gambaran kekuatan bermusuhan Iran semacam itu.

Motif kehormatan kemudian dikombinasikan dengan rasa takut. Rakyat Iran takut dirampas kehormatannya, yang mereka anggap hak mereka sebagai pemimpin hegemoni alami kawasan Teluk dan dunia Islam.

2019 11 25T143225Z 973912172 RC2EID9SFB9T RTRMADP 3 IRAN GASOLINE PROTESTS 1 - Mengapa Perang Dunia III Tak Terjadi dalam Waktu Dekat?

Terakhir ialah kepentingan. Perilaku bermusuhan harus mencukupi bagi Iran sampai ia dapat mengumpulkan bahan yang digunakan untuk menjadikan dirinya penguasa hegemoni. Sangat menarik Thucydides mendaftar perolehan materi terakhir di antara kekuatan yang menggerakkan umat manusia. Lagi pula, para spesialis kebijakan luar negeri telah mencantumkannya terlebih dahulu. Kepentingan dapat dikuantifikasi dan tampaknya langsung dimasukkan ke dalam perhitungan biaya, manfaat, dan risiko. Hal itu membuat kepemimpinan negara tampak rasional.

Tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti setelah dua milenium, tetapi tampaknya masyarakat Yunani kuno yang bijak bermaksud mengecilkan rasionalisme yang berlebihan. Mereka menganggap sifat manusia lebih dari hal-hal yang dapat diperhitungkan, seperti hasil ekonomi atau pasukan yang besar. Bagi Thucydides, biaya atau manfaat mengambil posisi di belakang dari gairah yang tidak sepenuhnya rasional yang mendorong umat manusia, beberapa di antaranya bersifat gelap seperti amarah dan dendam, sementara yang lain cerah.

Kepentingan material Iran merupakan cara untuk meremajakan kehormatan nasional sambil mengesampingkan rasa takut. Melanggar blokade ekonomi dalam strategi “tekanan maksimum” pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan memungkinkan Iran untuk merevitalisasi sektor minyak dan gas yang hampir mati di negara itu. Perdagangan ekspor yang diperbarui akan memberikan kekayaan. Beberapa hasilnya bisa diarahkan ke perlengkapan kekuatan besar seperti angkatan laut dan udara berteknologi tinggi.

Pada gilirannya, para pemimpin Iran dapat mendukung diplomasi yang lebih ambisius. Mereka akan menikmati pilihan untuk keluar dari cara mereka yang murni tidak teratur, bermasalah, dan bersaing melalui metode yang lebih konvensional. Atau, lebih mungkin, kepemimpinan Iran akan memanfaatkan sarana yang tidak teratur sebagai tambahan untuk kompetisi strategis tradisional. Singkatnya, keuntungan materi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan ekonomi, tetapi juga memperkuat kekuatan bela diri. Dengan melakukan hal itu akan memuaskan hasrat non-material untuk otoritas geopolitik dan kemasyhuran.

Bagaimana dengan sisi Amerika Serikat? Prosesnya sama saja. Fokuskan kebijakan dan strategi AS melalui ketakutan, kehormatan, dan kepentingan ala Thucydides, lantas pertimbangkan bagaimana motif Iran dan Amerika dapat bersinggungan dan saling berinteraksi, kemudian nantikan cahaya apa yang disorotkan ke masa depan. Mungkin Perang Dunia III akan pecah suatu hari nanti, James Holmes dari The National Interest menyimpulkan, tetapi bukan antara AS dan Iran dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *