Mengenal Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani

Mengenal Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani

Mengenal Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani

Mengenal Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani – Sejarah perkembangan konsep masyarakat madani. Jika ditarik kebelakang, konsep masyarakat madani sudah ada pada zaman aristoteles. Wow banget kan? Nah bagi yag belum tahu, yu baca penjelasanan singkatnya berikut!

Konsep masyarakat madani sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu kala. Kosep ini berasal dari perjuangan politik sertan sejarah masyarakat Eropa Barat yang menjalani proses peralihan atau pergantian dari pola kehidupan feodal ke kehidupan masyarakat industri yang kapitalis. Konsep masyarakat madani, jika dipelajari, sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Jika dicari akar sejarahnya, perkembangan konsep masyarakat madani sudah ada sejak zaman Aristoteles yaitu sekitara tahun 384-322 SM. Pada saat itu, masyarakat madani dipahami sebagai suatu sistem negara dengan menggunakan istilah ‘koinoniah politike’, sebuah komunitas politik dimana warga masyarakat dapat terlibat langsung dalam berbagai konteks politik dan pengambilan keputusan. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan masyarakat politik serta etika di mana warga atau masyarakat di dalamnya setara di depan hukum.
Konsepsi dasar Download IDN Poker yang digambarkan oleh Aristoteles diikuti dan dikembangkan oleh Marcus Tullius Cicero pada tahun 106-43 SM dengan istilah ‘Societies Civilies’ yang dapat diartikan sebagai sebuah komunitas yang mendominasi komunitas lain. Istilah yang dikemukakan oleh Cicero tersebut lebih mengarah pada konsep sebuah negara kota (City State), yaitu untuk menggambarkan kerajaan, kota, dan bentuk korporasi lainnya, sebagai kesatuan yang terorganisir. Konsep yang sama juga dikembangkan oleh Thomas Hobbes pada tahun 1588-1679 M dan Jhone Locke pada tahun 1632-1704 M. Selanjutnya, di Prancis muncul John Jack Rousseau, yang akrab dengan bukunya The Social Contract pada tahun 1762. Dalam buku J.J. Rousseau berbicara tentang pemikiran otoritas rakyat, dan kesepakatan politik yang harus dilakukan antara manusia dan kekuasaan.

Konsep masyarakat madani hampir sama dengan Masyarakat indonesia

Pada tahun 1767, konsep masyarakat madani dikembangkan kembali oleh Adam Ferguson dengan mengambil konteks sosio-kultural serta politik di Skotlandia. Ferguson menggarisbawahi bahwa masyarakat madani merupakan visi etis dalam kehidupan masyarakat. Pemahaman tentang konsep masyarakat madani tersebut dipakai guna mengantisipasi perubahan sosial sebagai akibat dari revolusi industri dan munculnya kapitlisme serta perbedaan mencolok antara masyarakat dan individu. Karena dengan konsep ini sikap solidaritas, saling mencintai serta saling percaya akan muncul antar warga secara alami.  

Dikembangkan oleh ketiga tokoh penting

Perkembangan konsep masyarakat madani dikembangkan lebih lanjut oleh G.W.F Hegel pada tahun 1770-1831 M, Karl Mark  pada tahun 1818-1883 M serta Antonio Gramsci pada tahun 1891-1837 M. konsep tentang masyarakat madani yang dikembangkan oleh ketiga tokoh tersebut diatas menggaris bawahi tentang masyarakat sipil sebagai elemen kelas ideologi yang dominan. Pemahaman tersebut lebih mengarah kepada suatu reaksi terhadap model pemahaman yang dibuat oleh paine (yang menganggap masyarakat sipil sebagai bagian terpisah dari negara). 
Di Indonesia, masyarakat madani sebagai terjemahan civil society pertama kali diperkenalkan oleh Anwar Ibrahim, Menteri Keuangan dan Perdana Menteri Malaysia saat itu, pada pidato Simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah di Festival Istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta. Istilah ‘masyarakat madani’ diterjemahkan dari bahasa Arab mujtama yaitu ‘madani’, yang diperkenalkan oleh prof. Naquib Attas, seorang sejarawan dan peradaban Islam asal Malaysia, pendiri ISTAC. Kata “madani” dapat diartikan sebagai sipil atau beradab. Madani juga berarti peradaban, seperti kata-kata Arab lainnya seperti hadlari, tsaqafi atau tamaddun. Konsep masyarakat madani untuk orang-orang Arab mengacu pada hal-hal ideal dalam kehidupan. Konsep masyarakat madani itu universal dan membutuhkan adaptasi yang harus diwujudkan di Negara Indonesia mengingat konsep dasar masyarakat yang tidak memiliki latar belakang yang sama dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.
Konsep Civil Society sangat baru di kalangan masyarakat Indonesia sehingga dibutuhkan proses dalam perkembangannya. Ini bukan hal yang mudah, karena itu memerlukan langkah-langkah yang efektif, sistematis, dan berkesinambungan untuk mengubah paradigma dan pemikiran masyarakat Indonesia.