Siapa Sosok Djoko Tjandra

Siapa Sosok Djoko Tjandra

Siapa Sosok Djoko Tjandra

Siapa Sosok Djoko Tjandra – Sepak terjang Djoko Tjandra licin bagai belut. Buron kasus hak tagih (cessie) Bank Bali membuat e-KTP hingga mengajukan peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) dalam waktu yang singkat dan senyap di hari yang sama.

Terbaru, Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menyebut Djoko Tjandra ternyata sempat membuat KTP sebelum mengajukan PK. Nama dalam KTP itu tertulis ‘Joko Soegiarto Tjandra’.

“Djoko Tjandra mengajukan PK tanggal 8 Juni 2020 menggunakan KTP yang baru dicetak pada hari yang sama,” ujar Boyamin dalam keterangannya, Senin.

Nama Djoko Sudiarto Tjandra alias Tjan Kok Hui santer terdengar, usai dirinya dikabarkan ada di tanah air sejak tiga bulan lalu. Tak hanya itu, buron kelas kakap kasus pengalihan (cessie) tagihan piutang Bank Bali ini, belum juga ditangkap sejak red notice dari Interpol terbit pada 2009.

Rekam data itu, disebut Boyamin, dilakukan Djoko Tjandra di kantor Dinas Dukcapil Jakarta Selatan yang berada di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama.

Boyamin menyebut data KTP Djoko Tjandra itu berbeda dari dokumen lama. Dia juga mengatakan Djoko Tjandra seharusnya tidak bisa melakukan rekam data KTP elektronik karena sesuai ketentuan datanya nonaktif.

“Djoko Soegiarto Tjandra karena di luar negeri hingga Mei 2020 dan tidak melakukan rekam data KTP elektronik, maka sesuai ketentuan datanya nonaktif sejak 31 Desember 2018,” kata Boyamin.

“Meskipun datanya telah nonaktif, ternyata Djoko S Tjandra diduga bisa melakukan cetak KTP elektronik pada tanggal 8 Juni 2020 dan diduga melakukan rekam data pada tanggal yang sama, 8 Juni 2020,” imbuhnya.

Djoko Tjandra seorang pengusaha besar

Djoko Tjandra merupakan pebisnis yang tergabung dalam Grup Mulia yang menaungi 41 anak perusahaan di dalam dan di luar negeri. Selain properti, grup yang pada 1998 memiliki aset Rp11,5 triliun itu, juga merambah ke bisnis keramik, metal, dan gelas.

Djoko Tjandra membangun bisnisnya bersama ketiga saudaranya, yakni Eka Tjandranegara, Tjandra Kusuma, dan Gunawan Tjandra. Perusahaan keluarga ini berkembang pesat sekitar 1990-an ketika dipimpin Djoko.

Djoko Tjandra mulai terjerat kasus saat membangun perusahaan bersama mantan Ketua DPR RI Setya Novanto

Djoko mendirikan dan menjadi Direktur PT Era Giat Prima (EGP) bersama mantan Ketua DPR RI Setya Novanto. Kala itu, Setya masih menjadi wakil bendahara Partai Golkar.

Skandal cessie Bank Bali bermula ketika bank tersebut sulit menagih piutangnya yang ada di Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN), dan Bank Tiara pada 1997. Total piutang dari tiga bank tersebut mencapai Rp3 triliun.

Meski ketiga bank masuk perawatan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), namun tagihan tak kunjung cair.

Direktur Utama Bank Bali Rudy Ramli kemudian bekerja sama dengan PT EGP. Perjanjian kerja sama diteken oleh Rudy Ramli, Direktur Bank Bali Firman Sucahya dan Setya Novanto.

Melalui perusahaan inilah, perkara korupsi muncul dalam bentuk cessie dengan nilai sekitar Rp905 miliar. Dari dana yang diberikan Bank Indonesia dan BPPN itu, PT EGP menerima Rp546 miliar, sedangkan Bank Bali Rp359 miliar.

Dana tersebut kemudian dicairkan, hingga membuat Djoko Tjandra diadili atas tuduhan penyalahgunaan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).