Turki Sengaja Kirim Pengungsi Suriah ke Eropa Untuk Desak NATO Ikut Perang

Turki Sengaja Kirim Pengungsi Suriah ke Eropa Untuk Desak NATO Ikut Perang

Turki Sengaja Kirim Pengungsi Suriah ke Eropa Untuk Desak NATO Ikut Perang

Turki Sengaja Kirim Pengungsi Suriah ke Eropa Untuk Desak NATO Ikut Perang,- Arah politik Turki dibawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan benar-benar ingin merdeka dari rongrongan Eropa. Jika penguasa-penguasa Turki sebelumnya yang selalu tunduk patuh pada Uni Eropa agar bisa diakui sebagai anggota, Erdogan malah sebaliknya.

Penguasa Turki itu berusaha meyakinkan jati diri bangsanya sebagai penguasa kawasan pada zaman dulu dan tidak bisa dirongrong bangsa asing. Dia juga gak peduli apakah negaranya ntar diakui sebagai anggota Uni Eropa atau bukan Sabung Ayam Online.

Bahwa Turki siap mundur dari keanggotaan koalisi militer NATO. Beberapa pengamat mengatakan, hal itu tinggal menunggu pengumuman resmi saja.

BACA JUGA: Gencatan Senjata Dengan Turki: Presiden Suriah Ucapkan Terima Kasih Pada Rusia

Can Unver, sang analis tersebut mengatakan bahwa, “Turki baru-baru ini menunjukkan posisi yang kuat dan tegas, didasarkan pada kepentingan nasionalnya. Situasi ini telah menimbulkan keprihatinan di AS dan negara-negara Baratnya.”

AS yang selama ini percaya diri dan bisa yakin bahwa mereka pegang kendali atas Turki akan menemukan dirinya dalam situasi sulit ketika Turki memutuskan keluar dari NATO. Keputusan Turki untuk membeli alutsista Rusia dipercaya merupakan langkah untuk memulai hal ini.

Karena apabila Turki keluar, artinya mereka sudah tidak perlu lagi menjadi tuan rumah bagi pangkalan NATO di Incirlik, dan AS akan kehilangan batu pijakan dan pintu masuk ke Timur Tengah.

Negara-negara Uni Eropa menuding Turki sengaja membiarkan para pengungsi Suriah untuk melintasi perbatasan, menyebrang ke Eropa untuk mendesak NATO agar turun berperang bersama Turki melawan Suriah.

Namun tuduhan Uni Eropa (UE) tersebut ditolak oleh Presiden Turki, Erdogan. Melalui juru bicaranya dia menegaskan bahwa Turki tidak hak untuk memaksa orang tinggal di negaranya maupun memaksa negara lain untuk mendukung Turki.

“Kami tidak pernah melihat pengungsi sebagai alat “pemerasan” politik,’ ujar Juru Bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin dalam sebuah konferensi pers di Ankara, dikutip AFP, Rabu (3/3/2020) waktu setempat.

BACAJUGA: MiG-29 Suriah Jatuh Saat Lepas Landas

“Tujuan kami dengan membuka pintu bukanlah untuk menciptakan krisis buatan, untuk mengintimidasi negara lain untuk bersedia bekerja bersama kami.”

Turki sekarang dihadapkan pada masalah banyaknya pengungsi Suriah di negaranya. Saat ini diperkirakan ada 4 juta pengungsi Suriah di Turki yang harus ditanggung kebutuhan hidupnya oleh Turki.

Selain membebani anggaran negara, juga menimbulkan konflik sosial karena meningkatnya pengangguran dan kesenjangan sosial dengan warga asli Turki.

“Turki punya batas kemampuan,” jelasnya lagi seraya meminta Eropa memenuhi janji di tahun 2016 untuk mencegah aliran pengungsi Suriah ke Turki.